Jumat, 15 April 2011

Nasib Sekolah Katolik Bagian #2

Pada tulisan yang lalu, kita melihat situasi dan kondisi beberapa sekolah katolik di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kali ini saya ingin membahas tentang apa akar penyebab merosotnya Sekolah Katolik di beberapa daerah. Jika saya melihat permasalahan sekolah katolik yang begitu kompleks, saya jadi teringat kata-kata Bapak Budiono (Wapres kita), bahwa telah terjadi kondisi sistemik di dalam Lembaga Penddikan Katolik.

Saya membagi menjadi 2 alasan penyebab sekolah Katolik mengalami kemunduran:
A. Alasan Internal
B. Alasan Eksternal

Mari kita lihat bersama alasan internal (7S) dan eksternal (6P) berikut ini:
A. Alasan Internal
Beberapa alasan internal terdiri dari:
1. Stake Holder.
2. Strategi Management
3. SDM (adalah guru dan staf pendidikan)
4. Sarana & Prasarana
5. Sumber dana
6. Sistem Kurikulum
7. Sistem Pembelajaran
B. Alasan Eksternal

Sedangkan alasan eksternal adalah sesuatu atau hambatan diluar sekolah atau yayasan.
Saya tidak bermaksud mengkambing hitamkan pihak luar atas merosotnya sekolah katolik. Namun sisi eksternal ini ikut berpengaruh mengapa sekolah katolik menjadi terpuruk.
1. Program Pemerintah
2. Perubahan Standar Pendidikan
3. Perubahan yang Dinamis
4. Persaingan antar sekolah
5. Pandangan Masyarakat
6. Partisipasi Gereja & Umat

Mari kita lihat satu persatu alasan internal berikut ini:
1. Stake Holder
Adalah para penentu kebijakan sekolah katolik diantaranya: Keuskupan, Pastor/Suster, Pengurus Yayasan.
a. Pastor sby pimpinan yayasan
Bila kita amati seksama, beberapa sekolah yang berkualitas, lebih banyak dikelola oleh tarekat, kongregasi. Mari kita lihat beberapa sekolah favorit berikut
• Di Surabaya : Sekolah St. Maria dikelola oleh Suster Ursulin. SMAK St. Louis, oleh Romo CM, SMAK Frateran oleh Frater BHK, Sekolah Santa Clara oleh para Suster MC.
• Di Jogjakarta: SMAK Van Lith, SMAK Stella Duce
• Di Bogor: Sekolah Regina Pacis
Mengapa sekolah diatas bisa berhasil? Bisa jadi komitmen kuat dari tarekat dan pemimpin yayasan. Mereka memiliki misi yang harus terus hidup, dan perlu pendanaan, salah satunya sumber dana dari sekolah yang mereka kelola.

Sementara sekolah dibawah yayasan keuskupan, dikelola oleh para pastor yang juga berkarya di paroki setempat. Mereka dipilih tentu saja memiliki semangat tinggi dalam melayani umat. Kelebihannya, memiliki wawasan dan paham tentang misi Gereja dalam bidang pendidikan. Namun ada beberapa kekurangan yang kadang kurang mendukung kemajuan sekolah:
• Disamping berkarya di sekolah katolik, mendapat tugas juga di paroki, sehingga tidak bisa berkonsentrasi penuh memikirkan kemajuan sekolah.
• Sekolah yang ditangani kadang jumlahnya cukup banyak. Misal: di Cepu dan Rembang, masing-masing ada 8 sekolah. Demikian juga di tempat lain.
• Sebagian besar para Pastor pimpinan yayasan, tidak dari background kependidikan, atau tidak memiliki kemampuan dibidang pendidikan. Jadinya kurang bisa memahami permasalahan yg dialami sekolah Katolik. Sehingga tidak ada terobosan berarti yang bisa mendobrak kebuntuan sekolah katolik yang terus menurun.
• Yayasan tidak memiliki tim penelitian dan pengembangan bagi kemajuan sekolah. Misalnya di Yayasan Yohanes Gabriel keuskupan Surabaya yang memiliki 152 sekolah. Mungkin yayasan memiliki tim pengembangan, namun tidak bisa berjalan seperti yang diharapkan. Padahal tim ini tugasnya amat strategis, untuk mengisi dan melengkapi kelemahan karena tugas-tugas Pastor yang begitu banyak. Kepada tim inilah Pastor selaku pimpinan yayasan, bisa bekerja sama dan mengembangkan kemajuan sekolah.

2. Strategi & pengelolaan management
a. Lemahnya kualitas SDM dalam hal kemampuan akademik, manajerial dan kepemimpinan sehingga sulit menghadapi persaingan yang semakin ketat.
b. Lemahnya manajemen sekolah dalam mem-fungsikan (merencanakan, mengorganisir, menggerakkan, mengendalikan, mengevaluasi) unsur-unsur manajemen (SDM, sarana prasarana, finansial, kurikulum, informasi.)
c. Lemahnya manajemen sekolah dalam rekrutmen pegawai, pembinaan pegawai, penghargaan pegawai dan pemutusan hubungan kerja pegawai.
d. Lemahnya akuntabilitas dan transparansi tata kelola penyelenggaraan pendidikan.
e. Manajemen pembinaan terhadap guru, tenaga administrasi dan tenaga pelaksana masih lemah

3. SDM (guru dan staf pendidikan)
Prof. Thomas Armstrong, pakar pendidikan Amerika menyatakan Sekolah Unggul adalah sekolah yang berfokus pada “Kualitas Proses Pembelajaran”. Kualitas Pembelajaran bergantung pada kualitas para pengajar. Jadi Sekolah Unggul: sekolah yang para pengajarnya mampu menjamin semua siswa akan dibimbing kearah perubahan yang lebih baik (sesuai visi misi pendidikan) membangun kualitas akademis, karakter dan kepribadian para siswa. Sangat jelas peran guru yang menjadi faktor utama sebuah sekolah bisa menjadi terbaik atau tidak.

Untuk itu, guru di sekolah Katolik, tetap memegang kunci terhadap maju mundurnya Sekolah Katolik. Peran guru di Sekolah Katolik adalah sebagai agen pembaharuan dan pelaku perubahan serta pendidik karakter bagi para siswa. Di samping sebagai pemimpin dan pendukung nilai-nilai positif dalam kehidupan. Sebagai figur dan teladan, mengajarkan keluhuran, keutamaan dan kebaikan. Maka dari itu guru hendaknya bermutu dalam kepribadian dan kerohanian yang mendukung tugasnya sebagai orang yang bertanggungjawab atas tercapainya hasil belajar siswa.

Sementara di sekolah-sekolah katolik saat ini, masih banyak beberapa kelemahan para pengajar, kepala sekolah maupun staf pendidikan, diantaranya:
a. Standar Kompetensi guru yang kurang
Standar guru yang disyaratkan pemerintah dalam mencapai Standar sekolah nasional adalah min 80% para guru memiliki ijasah S1, bahkan diharapkan beberapa guru memiliki gelar S2.
b. Pelatihan guru & staf
Sekolah yang bagus adalah sekolah yang memiliki program pengembangan dan pelatihan para guru. Namun di sekolah katolik sering kali hanya setahun atau satu semester sekali, misal: retret, rekoleksi, pembinaan.
c. Kualitas Kepala Sekolah
Ini salah satu yang terjadi di sekolah katolik, yaitu krisis kepemimpinan. Sering kali pihak yayasan kesulitan mencari figur kepala sekolah yang memiliki visi ke depan dan memiliki jiwa leadership yang kuat.
d. Semangat & Motivasi
Lemahnya pemberian hak gaji guru, sehingga motivasinya lemah dan banyak guru berkualitas lari menjadi pegawai PNS/ lembaga lain.

e. Strategi Pengajaran
Hampir 90 persen para guru di sekolah Katolik tidak memiliki cukup strategi pengajaran yang benar-benar ramah otak. Sering kali guru hanya menggunakan metode pengajaran: “proses belajar mengajar menurut gaya saya”. Dan ditambah lagi miskin alat peraga pendidikan dan aktivitas. Ya, karena ini juga berhubungan erat dengan dana. Diperlukan pelatihan yang berjenjang untuk meningkatkan kompetensi pengajaran para guru.
f. Guru DPK
Dari pihak pemerintah semakin meningkatnya kemandirian yayasan, mendorong pemerintah mengurangi pendropan guru-guru negeri ke sekolah-sekolah katolik. Sehingga semakin berkurangnya jumlah guru-guru negeri yang diperbantukan (DPK) ke sekolah-sekolah katolik.

Sementara dilema dilapangan, komitmen guru DPK tidak sesuai yang diharapkan. Banyak yayasan/sekolah mengeluhkan dedikasi guru-guru yang diperbantukan oleh pemerintah. Meski mereka digaji dari anggaran pemerintah, namun karena merasa bukan digaji oleh yayasan, banyak guru DPK bekerja semaunya sendiri. Akibatnya loyalitas kepada sekolah kendor.

Berkurangnya guru negeri yang diperbantukan dan meningkatnya guru yayasan yang dipekerjakan jelas membawa konsekuensi keuangan yang tidak kecil bagi yayasan. Dan ini tidak murah!. Berbeda dengan sekolah negeri yang semua dananya disubsidi pemerintah, sekolah swasta termasuk sekolah katolik menggantungkan pendanaan dari orang tua murid. Tak heran semenjak mendaftarkan diri ke sekolah, yayasan sudah menjelaskan konsekuensi memasuki sekolah tersebut.

g. Usia guru
Usia guru sebenarnya tidak berpengaruh, selama para guru mau diajak untuk melakukan perubahan. Namun, berdasarkan pengalaman, yang terjadi semakin banyak usia tua, semakin tidak mudah untuk diajak melakukan perubahan dan cara-cara baru. Mereka cukup puas dan nyaman dengan cara mengajar yang sudah mereka lakukan selama bertahun-tahun.

4. Sarana & Prasarana
Menurut panduan dinas pendidikan, prasarana pendidikan mencakup standar minimal yang wajib dimiliki oleh sekolah yaitu ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi dan jasa, tempat berolahraga, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Standar sarana pendidikan mencakup persyaratan minimal tentang perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Sedangkan kebanyakan kondisi di Sekolah Katolik: gedung lama yang kurang terawat, karena perlu biaya besar bila dilakukan renovasi. Sarana bangku, fasilitas parkir, laboratorium model lama, alat-alat penunjang yang kurang layak pakai. Sebetulnya pihak yayasan ada keinginan kuat untuk memperbaiki sarana dan prasarana, hanya lagi-lagi terbentur masalah anggaran dana yang terbatas.

5. Sumber dana
Peningkatan mutu pendidikan akan dapat berjalan dengan lancar jika didukung dana pendidikan yang memadai sehingga sarana prasarana pendidikan dapat diciptakan dalam rangka mendukung peningkatan mutu tersebut. Perlunya dana pendidikan bukanlah hanya untuk jangka pendek melainkan jangka panjang. Beberapa keuskupan sudah ada gerakan penggalangan dana pendidikan untuk kemajuan sekolah Katolik. Berupa sumbangan sukarela dari umat, pengusaha yang menaruh perhatian pada pendidikan katolik, para alumni sekolah yang peduli. Gerakan penggalangan dana ini hendaknya menjadi sebuah gerakan umat untuk meningkatkan kualitas pendidikan katolik.

6. Sistem Kurikulum
Sekolah Katolik merupakan salah satu karya kerasulan Gereja, maka pendidikan Katolik diharapkan mentaati dan mewujudkan harapan Gereja. Oleh karena itu, menjadi penting untuk mewujudkan semangat dasar sekolah katolik yang setia mencerdaskan bangsa, setia terhadap ciri khas Katolik, dan setia terhadap spiritualitas pendiri. Dengan demikian dimensi religiuslah yang membedakan sekolah Katolik dengan sekolah lain. Sekolah katolik masih menjadi harapan masyarakat karena sekolah katolik memberikan nilai-nilai kristiani antara lain dalam wujud kedisiplinan, kasih dan persaudaraan, kepedulian, serta solidaritas.

Namun dalam kenyataannya sekolah katolik, kurang paham bagaimana mewujudkan visi dan nilai-nilai kristiani ke dalam sebuah kurikulum sekolah katolik. Dengan adanya KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan), sebenarnya peluang besar bagi sekolah katolik untuk mewujudkan visi dan misi kekatolikan. Diknas Pendidikan sudah memberikan jalan melalui KTSP sejak 2006, sedangkan Gereja atau Penyelenggara sekolah saya lihat terlambat menanggapi. Program yang ada saat ini hanya sebatas program retret siswa, rekoleksi, pembinaan iman, misa sekolah. Namun belum Nampak sebuah program yang jelas di dalam kurikulum yang menyentuh pembangunan karakter dan nilai-nilai katolisitas. Sementara saya mengamati di sekolah-sekolah muslim sudah memasukkan konten (isi) berciri khas islami ke dalam kurikulum mereka. Seperti sekolah Muhammadiyah, Sekolah Lazuardi Insan Khamil, Al Azhar, Al Ikhlas, Al Hakim dll.

7. Sistem Pembelajaran
Seperti yang telah disampaikan Thomas Armstrong, Sekolah unggul adalah sekolah yang memiliki kualitas proses pembelajaran. Jadi proses pembelajaran adalah jantung dari sebuah sekolah yang baik.

Nah bagaimana system pembelajaran yang terjadi di sekolah katolik?
• Pembelajaran yang teacher oriented. Hampir 70 persen berpusat pada guru
• Pembelajaran didominasi ceramah klasikal. Padahal pembelajaran yang terbaik saat ini adalah berbasis aktivitas (experience learning)
• Miskin alat peraga, guru sebagai sumber pengetahuan dan papan tulis sebagai media pembelajaran.
• Miskin strategi pembelajaran. Seringkali hanya metode ceramah yang dipakai. Padahal banyak sekali strategi pembelajaran bagi siswa melalui: multisensori yang kaya akan ‘experience’ seperti: poster, musik, movie learning, fun games, drama, cerita, panggung terbuka dll.

Oleh karena itu, para guru di sekolah katolik, perlu di-upgrade skill dan kemampuannya, sehingga bisa menyajikan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Untuk meng-upgrade kemampuan mengajar para guru diperlukan pelatihan yang berkesinambungan. Dan ini kembali lagi pada keterbatasan dana yang dimiliki yayasan.

Sementara sekolah-sekolah yang lain sudah menerapkan beberapa system pembelajaran spt:
1. BCCT (beyond center and circle time). Sistem pembelajaran dimana guru-guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajari dengan penerapannya dalam kehidupannya sehari-hari. Banyak diterapkan di sekolah PG-TK dan SD.
2. Metode ICT
Metode pembelajaran berbasis computer dan teknologi, seperti penggunaan sarana multimedia. Untuk metode ini memang diperlukan anggaran yang sangat besar. Namun mengapa ada sekolah yang menerapkan? Mungkin memiliki nilai jual dan gengsi tinggi yang memanfaatkan teknologi, sehingga bisa sebagai promosi untuk siswa baru.
3. Multiple Intelligences in classroom Sekolah yang sudah menerapkan ini spt: Sekolah Lazuardi, Jaringan sekolah SDIT, Sekolah YIMA, YIMI, Muhammadiyah, Al Hikmah, Mutiara Ilmu, Al Fallah, Cakra Buana. Belum saya ketahui dari sekolah katolik yang menerapkan metode multiple intelligences.
4. Service Learning, Environment Learning, Fieldtrip education dll.

Agar memiliki system pembelajaran yang terbaik, memang pihak sekolah perlu melakukan kerjasama dengan lembaga / konsultan pendidikan yang paham dan kompeten. Seperti yang dilakukan oleh sekolah-sekolah yang saya sebutkan diatas.

Nah kita sudah mengetahui beberapa alasan internal menurunnya sekolah katolik. Berikut beberapa alasan eksternal yang turut mempengaruhi menurunnya sekolah katolik:

1. Program Pemerintah
Program pemerintah dibidang pendidikan adalah sangat bagus demi meningkatkan kualitas pendidikan.
Ini dimungkinkan setelah dana APBN untuk pendiikan disetujui sebesar 20%.

Beberapa program yang tengah berjalan adalah:
a. Program sekolah gratis SD / SMP Negeri.
Walaupun hanya SPP yang gratis, namun ini sudah menyedot animo masyarakat utk memperebutkan bangku di sekolah negeri. Semakin lama, terjadi perubahan minat yang sebelumnya ke sekolah katolik atau swasta, mereka lebih memilih sekolah negeri sebagai pilihan pertama. Untuk di kota besar spt: Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Semarang mungkin dampaknya tidak begitu berpengaruh. Namun untuk di sekolah katolik di daerah, dampaknya sangat terasa secara langsung. Karena biaya sekolah dan biaya hidup semakin lama semakin tinggi.

b. Program RSBI bagi sekolah percontohan di masing-masing kota.
Tujuan pemerintah cukup bagus dengan program RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Menjadikan sekolah di Indonesia bertaraf Internasional, sister city dengan Lembaga Internasional, spt: Cambridge, USAID, AUS dll.

Harus diakui program RSBI telah menjadi magnet bagi para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya. Karena RSBI memiliki banyak keunggulan dimata orang tua diantaranya:
• Menerapkan kelas bilingual, proses belajar dalam bahasa Inggris dan diwajibkan mempelajari satu bahasa asing lain.
• Fasilitas kelas multimedia, dan internet.
• Memiliki standar management, dengan adanya sertifikasi internasional ISO 9001:2008
• Guru-guru standar internasional lulusan S1 dan S2
• Ekstrakurikuler yang menunjang spt: Robotic, OSN dll.
• Kerja sama (sister School) dengan pihak luar negeri
• Memiliki kebanggaan tersendiri dll.
• Adanya program akselerasi kelas. Dimana sekolah 3 tahun bisa dicapai dalam waktu 2 tahun.

Dan minimal ada 1-2 sekolah RSBI (tingkat SMP/SMA) di setiap kota/kabupaten, termasuk kota-kota kecil spt: Lumajang, Lamongan, Bangil, Bojonegoro dll. Ini yang membuat sekolah Katolik di daerah dalam kondisi terjepit oleh sekolah negeri dan swasta.

Sedangkan sekolah swasta juga gencar menghimpun dana, berusaha mengejar standar RSBI. Dengan cara sertifikasi ISO, sister school dengan sekolah luar negeri, penerapan metode pembelajaran yang terbaik dan pembangunan fasilitas sekolah. Mereka berusaha menonjolkan potensi yang dimiliki sekolah. Otomatis dana yang dibutuhkan cukup besar, misalnya untuk sertifikasi ISO perlu dana min. 100 juta untuk satu sekolah yang bisa makan waktu 2 tahun, pelatihan upgrade pengajar min. 50 juta, belum pembangunan fasilitas, lab komputer dll yang butuh dana ratusan juta. Ini hanya untuk satu sekolah, bisa dibayangkan Gereja yang memiliki ratusan sekolah.

Sekolah swasta yang sudah bertaraf internasional misal: Sekolah Ciputra, Cita Hati, Citra Berkat, Morning Star, yang kebanyakan berada di kota besar. Disamping itu sekolah swasta berusaha unggul di satu bidang, misal unggul dibidang entrepreneur, prestasi olimpiade sains, kegiatan ekstra, ciri khas islami dll.

2. Perubahan Standar Pendidikan
Sebelumnya, sekolah dianggap bermutu dan berkualitas, karena anggapan masyarakat spt:
a. Memiliki lulusan yang hebat
b. Mengajarkan nilai-nilai kristiani
c. Memiliki guru-guru yang berkualitas
d. Memiliki jumlah siswa yang banyak
e. Memiliki ekskul yang berbobot
f. Prestasi di beberapa ajang perlombaan. Dll.

Nah bagaimana dengan anggapan sekolah berkualitas di jaman ini? Pemerintah memiliki kriteria standar kualitas pendidikan.
Misal standar Nasional pendidikan harus memenuhi 8 aspek:
a. Standar kurikulum
a. Standar proses pembelajaran yang menarik, menyenangkan bagi siswa.
a. Kompetensi lulusan yang memiliki kemampuan, sikap, pengetahuan dan keterampilan.
b. Standar pendidik yang berkualitas dan kompeten
c. Sarana & Prasarana yang memadai
d. Standar Pengelolaan dan manajemen
e. Standar Pembiyaan
f. Standar Penilaian
Dari hasil akreditasi, diknas akan memberi sertifikasi untuk sekolah standar nasional (SSN) dan sekolah standar internasional (SSI).
Dari kriteria ini, maka banyak sekolah katolik yang tertinggal bila harus mengejar standar kualitas yang ditentukan oleh pemerintah.

3. Perubahan yang Dinamis
Perubahan yang terjadi adalah :
a. Adanya krisis moneter yang turut membuat daya beli masyarakat rendah. Banyak orang tua yang tidak sanggup menyekolahkan anaknya ke sekolah yang berkualitas, yang berkonotasi mahal. Mereka hanya sanggup menyekolahkan anaknya di sekolah di mana biaya sekolah bisa terjangkau.
b. Perubahan kebutuhan pasar akan kompetensi lulusan yang bisa bersaing di dunia kerja. Misal: kemampuan bahasa asing, keahlian computer, skill entrepreneurship, leadership, trampil dan memiliki kepribadian yang bisa diandalkan. Sudahkah Sekolah Katolik mengantisipasi hal ini?

4. Persaingan antar sekolah
• Adanya image (pandangan) baru di kalangan masyarakat bahwa sekolah unggul (terbaik) saat ini adalah sekolah negeri atau sekolah yang mendapat predikat RSBI, atau Nasional. Sementara Sekolah Katolik tidak menyandang predikat tsb.
• Kualitas sekolah negeri yang semakin bagus dan Pertambahan sekolah negeri yang baru, menambah peta persaingan sekolah katolik
• Adanya penambahan jumlah kelas sekolah negeri, termasuk kelas SBI (akselerasi)
• Bermunculan sekolah baru di sekitar sekolah yang telah ada
• Sekolah negeri semakin agresif meningkatkan kualitasnya dengan ”iming-iming” sekolah murah, gratis
• Sekolah swasta juga mulai melakukan pembenahan, menjual keunggulan dan potensi yang dimiliki seperti: Kelas Bilingual, RSBI, Prestasi OSN, Fasilitas gedung baru, Sister City dengan Cambridge
• Mulai muncul sekolah-sekolah muslim yang berkualitas yang menambah daya saing sekolah Katolik

5. Pandangan Masyarakat
• Biaya sekolah yang semakin tinggi yang tidak terjangkau oleh orang tua, menjadikan sekolah katolik dianggap sebagai sekolah yang mahal. Anggapan negatif ini membuat kepedulian dan kepecayaan umat terhadap sekolah katolik bisa runtuh.
• Mulai tumbuh kesadaran dari keluar muslim, bahwa anak-anak mereka perlu mendapat pendidikan agama dan akhlak sesuai ajaran muslim. Tentu ini akan berpengaruh juga saat mereka akan menyekolahkan anak-anak mereka.
• Prestasi Sekolah Katolik yang mulai meredup, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap Sekolah katolik semakin lama semakin menurun.

6. Partisipasi Gereja & Umat
• Umat kurang peduli tentang kehadiran Lembaga Pendidikan Katolik sehingga jumlah murid menurun.
• Belum memiliki persepsi yang sama tentang menerjemahkan tugas pewartaan iman di lembaga pendidikan Katolik
• Peran serta Gereja tidak maksimal, bisa dilihat dari minimnya keluarga Katolik menyekolahkan anaknya di sekolah Katolik.

Demikianlah ulasan saya tentang akar penyebab menurunnya sekolah katolik. Agak sedikit lebih panjang tulisan ini, namun alangkah baiknya bila ini diketahui oleh pihak Gereja, pengelola sekolah katolik dan umat pada umumnya.

Lalu jika kita telah mempetakan berbagai alasan diatas, lantas bagaimana kita menyikapi hal ini? Apa yang harus dilakukan dalam membangun kembali citra Sekolah Katolik yang tengah terpuruk?

Bersambung ke : Nasib Sekolah Katolik Bag. III
“Gagasan Membangun Sekolah Katolik yang Unggul”

Salam Pendidikan,
Markus Tan

* web: www.best-camp.com
* email: tanmarkus@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar